Tuesday, May 19, 2009

Demokrasi, Selembar Kaos dan Uang Rp. 50.000,-

Seorang Caleg
Seorang Caleg incumbent sebuah Partai Politik bersaing kembali di Pemilu 2009. Berbeda dengan Pemilu sebelumnya dimana yang bersangkutan menjadi anggota DPRD Kabpaten, di Pemilu ini ia bersaing untuk DPRD Propinsi. Tapi sayang ia kalah dari seorang pengusaha yang baru kali ini jadi caleg.
Selama sang incumbent menjadi wakil rakyat, infrastruktur ke daerah pemilihannya dibangun dan diperbaiki. Fasilitas jalan yang merupakan satu-satnya akses ke dua kecamatan yang menjadi dapilnya sebelumya dipenuhi jebakan lobang menganga sekarang telah mulus. Jembatan besar yang kalau ia tak ada, maka matilah akses ke kecamatan itu juga dibangun. Fasilitas pendidikan diperbaiki dan ditingkatkan alokasinya dalam anggaran sehingga mampu bersaing dengan sekolah lain di lain kecamatan. Belum lagi fasilitas keagamaan dan promosi budaya lokal. Pendek kata, selama yang bersangkutan menjadi anggota legislatif, banyak hal yang telah diperbuatnya.
Tapi itu bukan jaminan bagi kemenangannya di Pemilu berikutnya. Suaranya hilang. Pasalnya sederhana, masyarakat merasa tak mendapatkan apa-apa dengan memilihnya karena ia tak mampu membagi-bagikan kaos pada masyarakat di dapilnya. Sesungguhnya ia mencetak kaos juga seperti caleg lainnya. Namun karena terbatasnya dana, jumlah kaos itu tak sebanding dengan jumlah mereka yang meminta kaos. Sementara, penantangnya –seorang pengusaha- mampu membagi-bagikan kaos, kerudung dan uang transport pada masyarakat.

Infrastruktur dan selembar kaos
Manakah yang lebih berharga antara infrastruktur dan selembar kaos? Karya sang caleg incumbent melalui perjuangannya di legislative pastilah sangat bernilai. Adanya jalan, jembatan dan fasiltas pendidikan serta social budaya yang memadai, pastilah lebih bernilai daripada selembar kaos dan uang Rp. 50.000. Dengan infrastruktur, masyarakat sebenarnya berpeluang meningkatkan taraf hidupnya bahkan sanggup untuk membeli lebih dari selembar kaos. Tapi sayang, karya selama lima tahun harus pupus ditelan selembar kaos.

Demokrasi dan Pendidikan Politik
Cerita di atas bukan cerita rekaan. Ia terjadi secara factual. Namun inilah produk demokrasi yang dijalankan dalam masyakarat yang secara umum belum memiliki kecerdasan politik. Alih-alih meningkatkan kualitas hidup, demokrasi justru membawa masyarakat pada pilihan yang berjangka pendek dengan efek jangka pendek pula. Pragmatisme sempit telah membuat masyarakat di dapil ini menggadaikanmasa depannya hanya seharga Rp. 55.000 ( Rp. 50.000 uang transport + selembar kaos berbahan Hijet 100 seharga Rp. 5.000).

Equalitas
Demokrasi dijalankan atas asumsi equalitas. Sejumlah orang dengan pemahaman yang sama membuat keputusan secara besama untuk sesuatu yang dipahami secara bersama pula. Demokrasi seperti ini akan efektif pada komunitas yang sama-sama terpapar informasi dan memiliki taraf kecerdasan yang serupa. Apakah sama nilai sikap dan pilihan seorang pakar kebijakan pembangunan yang paham dengan efek dan konsekuensi sebuah kebijakan dibandingkan dengan mereka yang bahkan tak pernah mengetahui apa kepanjangan dari kata " PERDA" ? Jika asumsi equalitas tak terpenuhi, maka demokrasi bisa saja membawa sebuah bangsa pada jurang kehancuran.

Alangkah menakutkannya jika masa depan diletakkan di tangan orang yang membuat putusan hanya dengan hitung kancing. Jangan-jangan kita sedang bermain dadu.

Friday, May 8, 2009

Label Halal

Issu dendeng babi yang menyeruak beberapa minggu terakhir menyisakan kemirisan betapa sebagian warga bangsa kita dengan mudahnya membelakangi langit. Mencoba menipu untuk mendapatkan sekerat keuntungan, mengelabui banyak orang untuk selanjutnya dicerca ramai-ramai. Lebih parahnya lagi, menggunakan label halal sebagai penutup keharaman produknya.

Dalam suatu suatu dialog di Metro TV, seorang intelektual muslim menyarankan untuk meniadakan label halal. Kontan hal ini ditolak oleh salah seorang Ketua MUI KH. Ma'ruf Amin. Intelektual Muslim ini menyatakan bahwa sebaiknya setiap produsen diharuskan membubuhkan ingredients dari produknya dan biarlah konsumen sendiri yang menilai halal atau tidaknya, bukan dengan intervensi MUI karena MUI bukan wakil Tuhan.

Argumen yang dikemukakan oleh Intelektual kita ini sepintas masuk akal. Apalagi sekarang sedang berkembang trend kebebasan pribadi, hubungan personal dengan Tuhan tanpa intervensi dari pihak manapun sampai dengan persoalan legitimasi lembaga fatwa. Namun jika ditilik lebih lanjut akan ada beberapa kendala :

  1. Jika produsen diwajibkan hanya mencantumkan ingredients, maka konsumen diwajibkan mengerti tentang ingredients itu beserta turunan dan asalnya. Misalnya jika disebutkan bahwa dalam satu produk disebutkan adanya Natrium Benzoat, maka konsumen harus paham apa itu Natrium Benzoat, dan paham pula muasal dan turunan zat ini. Kalau begini ceritanya, maka hanya mereka yang lulus pelajaran kimia saja yang layak berbelanja di pasar.
  2. Kalaupun produsen menyebutkan ingredientsnya, maka apakah dengan serta merta konsumen dapat mengetahui prosesnya? Nilai kehalalan suatu produk sebenarnya tidak hanya pada materi produk itu, namun juga prosesnya. Misalnya kornet daging sapi. Kita mengetahui bahwa daging sapi itu halal, namun apakah bisa diketahui bahwa sapi itu benar-benar disembelih dan diolah sesuai cara yang shar'i? Apakah sapi itu disembelih dengan nama Tuhan? Apakah pengolahannya menggunakan mesin yang tak terpisah dengan pengolah babi misalnya? Atau apakah jika kasusnya ayam, ayamnya mati disembelih, atau dicekik, atau dipukul, atau ditusuk duburnya? Dalam Islam, cara matinya saja berpengaruh pada tingkat kehalalan suatu produk. Nah jika begini keadaannya, terpaksa semua konsumen harus mendatangi semua pabrik satu per satu sembari mengintip semua proses produksi sampai yakin akan kehalalannya.
  3. Dua pengetahuan itu saja tak cukup. Setelah mengetahui ingredients dan proses, konsumen juga harus menimbang produk itu dengan hukum syariah. Mengkaji, memeriksa dan menginstinbat hukum untuk kepentingan pribadinya. Oleh karena itu, konsumen terpaksa harus membeli buku-buku fiqih dan membawanya setiap berbelanja agar tak salah beli. Atau jika itu tak bisa, maka terpaksa hanya mereka yang lulusan pesantren saja yang bisa shopping.

Sungguh aneh sang intelektual kita ini. Seharusnya, ia hanya mengemukakan ide secara utuh dengan berbagai pertimbangan dan analisis sampai ke sisi praktis, bukannya melempar ide yang belum matang untuk sekedar senam otak dan cari popularitas dengan sensasi.

Saturday, April 25, 2009

Teks Lengkap Pidato Ahmadinejad Pada Konferensi Anti Rasisme di Jenewa

Bismillahirrahmanir rahim

Allahumma 'Ajjil Liwaliyyikal Faraj Wal'Afiah Wannashr. Waj'alna min Khairi Ansharihi wa A'wanini Walmustasyhadina Baina Yadaih.

Segala puji dan syukur khusus milik Allah Yang Adil, Pengasih dan Yang Menginginkan Kebaikan Hamba-Nya.

Salam Allah kepada para Nabi Ilahi mulai dari Nabi Adam hingga Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan pamungkas para nabi Muhammad saw. Mereka semua adalah penyeru monoteisme, persaudaraan, cinta, kehormatan manusia dan keadilan.

Pimpinan sidang,

Sekjen PBB,

Komisi Tinggi HAM,

Ibu dan bapak,

Kita berkumpul di sini guna melanjutkan konferensi anti rasisme Durban dengan membahas kondisi kekinian dan solusi praktis dalam perjuangan suci dan manusiawi ini. Dalam peristiwa di beberapa abad terakhir telah terjadi banyak kezaliman besar terhadap umat manusia. Di abad pertengahan para ilmuwan dihukum mati. Setelah itu masuk masa perbudakan dan pemburuan manusia tak berdosa lalu memisahkan mereka dari keluarganya dengan mengirimkan mereka ke Eropa dan Amerika dalam kondisi sangat buruk bila dibandingkan jutaan manusia lainnya.

Periode kegelapan yang dibarengi oleh penjajahan berbagai daerah disertai penjarahan kekayaan alam dan pembantaian serta mengungsikan dengan paksa warga tak berdosa. Bertahun-tahun lewat bangsa-bangsa bangkit untuk mengusir para penjajah lalu mendirikan pemerintah independen dan nasional dengan nyawa jutaan manusia.

Gila kekuasaan dalam waktu singkat memaksakan dua perang besar di Eropa dan sebagian dari Asia dan Afrika. Perang yang hasilnya mengorbankan ratusan juta nyawa manusia dan hancurnya lahan-lahan tanah-tanah subur. Mereka yang menang dalam perang menganggap dirinya sebagai jagoan dan pemenang dunia sementara bangsa-bangsa lainnya dipandang sebagai pecundang. Mereka lalu membuat undang-undang dan sistem yang zalim, tidak peduli dan bahkan menistakan hak-hak bangsa lain.

Ibu dan bapak,

Pandang Dewan Keamanan PBB sebagai warisan Perang Dunia I dan II. Dengan logika apa mereka mendapatkan keistimewaan dan hak veeto? Nilai-nilai kemanusiaan dan ilahi seperti apa yang bisa menerima logika ini? Dengan keadilan? Dengan persamaan di hadapan hukum? Dengan kehormatan manusia? Atau diskriminasi, ketidakadilan, pelanggaran HAM dan ancaman bagi mayoritas bangsa dan negara di dunia? Ini kondisi dewan tertinggi dan referensi pengambilan keputusan bagi perdamaian dan keamanan dunia! Ketika diskriminasi ada dan sumber hukum tidak lagi keadilan dan kebenaran, tapi arogansi dan kekuatan, bagaimana dapat diharapkan terciptanya keadilan dan perdamaian? Gila kekuasaan dan egoisme sumber rasisme, diskriminasi, agresi dan kezaliman.

Sekalipun kini kebanyakan orang-orang rasis juga ikut-ikutan mengecam rasisme dalam slogan dan ucapan mereka, namun ketika beberapa negara kuat punya hak berdasarkan kepentingannya mengambil keputusan untuk negara-negara lain, mereka dengan mudah menginjak-injak hukum dan nilai-nilai kemanusiaan. Dan hal itu telah dilakukan oleh mereka.

Setelah Perang Dunia II dengan alasan orang-orang Yahudi menjadi korban dalam peristiwa holocaust dan dengan agresi mereka mengungsikan sebuah bangsa dan mereka mengirimkan orang-orang Yahudi dari Eropa, Amerika dan dari berbagai negara di dunia tinggal di daerah itu.
Mereka akhirnya mendirikan pemerintah yang mutlak berasaskan rasisme di Palestina pendudukan. Sejatinya, alasan untuk menebus kerugian rasisme di Eropa, mereka mendirikan rasisme paling kejam di tempat lain, yaitu Palestina.

Dewan Keamanan PBB mengakui pemerintah perampok ini dan selama 60 tahun membelanya serta memberikan kesempatan rezim ini untuk melakukan segala bentuk kejahatan. Lebih buruk dari ini, sejumlah negara Barat dan Amerika merasa berkewajiban untuk membela para rasisme pembantai manusia. Ketika manusia yang masih memiliki hati nurani bersih menyaksikan pengeboman dan pembantaian yang terjadi di Gaza dan mengecam aksi tersebut, mereka malah membela para penjahat. Sebelum itu juga mereka memilih diam di hadapan segala terbongkarnya kejahatan yang dilakukan rezim ini dan mendukungnya.

Saudara-saudara yang mulia, ibu dan bapak,

Apa alasan di balik perang terakhir seperti serangan Amerika ke Irak dan pengiriman besar-besaran tentara ke Afganistan? Apa alasannya selain arogansi pemerintah Amerika waktu itu, tekanan para pemodal dan penguasa untuk melebarkan pengaruh dan hegemoni, menjamin kepentingan para produsen senjata, penghancuran sebuah peradaban ribuan tahun, menghancurkan bahaya potensial dan aktual negara-negara regional terhadap Rezim Zionis Israel dan menjarah sumber-sumber energi Irak?

Jujur saja, mengapa ada satu juta orang tewas dan cidera dan jutaan lainnya harus mengungsi? Jujur saja, apakah serangan ke Irak dengan rencana Rezim Zionis Israel dan sekutu mereka di pemerintah Amerika waktu itu yang di satu sisi bersandar pada kekuasaan dan di sisi lainnya bersandar pada para pemilik perusahaan senjata? Apakah dengan mengirimkan pasukan ke Afganistan, perdamaian, keamanan, ketenangan dan kesejahteraan telah kembali di negara ini?

Amerika dan sekutunya tidak mampu bahkan hanya untuk mencegah produksi narkotika. Kehadiran mereka di Afganistan kini malah membuat produksinya meningkat berkali-kali lipat!

Pertanyaan pentingnya adalah apa yang dilakukan oleh pemerintah Amerika dan sekutunya waktu itu? Apakah mereka menjadi wakil-wakil dunia? Apakah mereka pilihan bangsa-bangsa di dunia? Apakah rakyat di dunia mewakilkan kepada mereka untuk mengintervensi seluruh dunia
(tentunya mereka lebih banyak melakukan intervensi di kawasan kami)? Apakah aksi-aksi pendudukan Irak dan Afganistan bukan bukti dari arogansi, rasisme, diskriminasi, penistaan kehormatan dan kemerdekaan bangsa-bangsa?

Ibu dan bapak,

Siapa penanggung jawab ekonomi dunia setelah terjadi krisis ekonomi dunia? Krisis bermula dari mana? Dari Afrika, Asia atau bermula dari Amerika yang kemudian menyebar ke Eropa dan sekutunya!

Cukup lama mereka memaksakan undang-undang dan peraturan tidak adil ekonomi dengan kekuatan politik dalam interaksi politik dan intenasional. Mereka menetapkan sistem moneter dan keuangan tanpa ada pengawasan internasional. Mereka memaksa seluruh negara dan bangsa di dunia untuk tidak ikut campur dalam proses dan pengambilan kebijakan. Mereka bahkan tidak pernah memberikan kesempatan kepada rakyatnya untuk melakukan pengawasan. Dengan meminggirkan moral dalam berbagai hubungan, mereka membuat undang-undang dan peraturan yang menguntungkan sebuah kelompok penguasa dan kaya. Dengan mendefinisikan sendiri pasar bebas dan persaingan, mereka berhasil menjegal kesempatan pihak lain memindahkan masalah yang dimilikinya ke pihak lain.

Kini puncak krisis puluhan ribu miliar hutang dan ribuan miliar defisit anggaran telah kembali kepada mereka sendiri. Kini untuk memperbaiki kondisi mereka mulai menyuntikkan ratusan miliar tanpa pendukung dari kantong rakyat Amerika sendiri dan dari seluruh dunia kepada bank-bank, perusahaan-perusaha an besar dan pasar moneter yang hampir bangkrut. Dengan cara ini mereka kembali membuat rakyatnya semakin banyak hutan dan masalah menjadi semakin kompleks.

Mereka hanya memikirkan kekuasaannya saja. Bagi mereka masyarakat internasional, bahkan rakyat mereka sendiri tidak bernilai.

Pimpinan sidan, ibu dan bapak,

Akar asli rasisme kembali pada ketidaktahuan akan hakikat manusia sebagai makhluk terpilih dan menyimpang dan jalur kehidupan manusia dan tugas manusia dalam penciptaan. Lalai dari penyembahaan secara sadar kepada Allah dan pemikiran dalam filsafat kehidupan dan jalur kesempurnaan manusia yang berasal dari hasil alami akibat komitmen terhadap nilai-nilai ilahi dan manusiawi. Semua ini menyebabkan tataran cara pandang seorang manusia menjadi turun yang membuatnya hanya memikirkan kepentingan terbatas dan fana sebagai prinsip dalam berlaku. Dengan demikian inti kekuatan yang memiliki sifat setan telah terbentuk. Dengan menghapus kesempatan secara adil bagi pertumbuhan orang lain ia berusaha mengembangkan diri. Sebagaimana dalam bentuk terburuknya berubah menjadi rasisme yang tidak lagi memiliki kekangan dan kini menjadi faktor paling berbahaya yang mengancam perdamaian dunia dan menutup jalan terciptanya kehidapan damai.

Tidak ragu lagi bahwa rasisme harus dinilai sebagai simbol kebodohan dalam sejarah dan tanda-tanda kekolotan di hadapan pertumbuhan manusia umumnya. Dari sini diharapkan kita mencari pengejawantahan rasisme dalam penyebaran kondisi kemiskinan akan ilmu dan ketiadaan pemahaman bagi masyarakat.

Oleh karenanya, solusi asli dalam memerangi fenomena ini adalah menyebarkan pemahaman masyarakat dan memperdalam pemahaman mereka mengenai filsafat keberadaan manusia dan hakikat dunia dengan fokus manusia. Hasilnya adalah kembalinya manusia kepada nilai-nilai spiritual, moral, keutamaan manusia dan kecenderungan kepada Allah. Masyarakat internasional harus dalam sebuah gerakan universal budaya demi menjelaskan lebih luas lagi kepada masyarakat yang terkena penyakit ini dan tentunya mereka terkebelakang. Bila ini dilakukan simbol keburukan dan kekotoran ini bakal tergerus dengan cepat.

Saudara-saudara yang terhormat,

Kini masyarakat internasional menghadapi semacam rasisme yang keburukannya merusak citra manusia di awal mileniuk ketiga dan mempermalukan umat manusia.

Zionisme Internasional simbol mutlak rasisme yang berbohong atas nama agama dan memanfaatkan simpati keagamaan demi menyembunyikan wajah buruknya dari orang-orang yang tidak punya informasi. Namun yang harus diperhatikan dengan serius adalah upaya sebagian kekuatan besar dan pemilik kepentingann luas di dunia dengan memanfaatkan kekuatan ekonomi, pengaruh politik dan media berusaha sekuat tenaga mendukung Rezim Zionis Israel dan mengurangi keburukannya. Di sini sudah bukan masalah kebodohan!

Oleh karenanya, tidak boleh mencukupkan diri dengan aksi-aksi budaya untuk melawan fenomena buruk ini, tapi yang harus dilakukan adalah mengakhiri penyalahgunaan Israel dan para pendukungnya akan lembaga-lembaga internasional sebagai alat politiknya. Dengan menghormati keinginan bangsa-bangsa lain dan memperkuat tekad negara-negara untuk mengikis habis rasisme ini serta berani mengambil langkah memperbaiki hubungan internasional.

Tidak ragu lagi kalian semua tahu ada upaya besar kekuatan-kekuatan dunia untuk menyelewengkan tugas penting ini dalam pertemuan ini.

Patut disayangkan bahwa diplomasi dukungan terhadap Zionis Israel memiliki arti ikut serta secara transparan dalam setiap aksi kejahatan dan ini menambah tanggung jawab wakil-wakil terhormat yang hadir untuk membongkar aksi anti manusia dan segera memperbaiki hubungan dan perilaku. Harus diketahui bahwa mengenyampingkan kapasitas besar dunia seperti konferensi ini merupakan bukti asli membantu berlanjutnya keberadaan rasisme paling buruk. Konsekwensi membela HAM saat ini pertama adalah membela hak bangsa-bangsa untuk bebas dalam mengambil keputusan penting dunia tanpa campur tangan pihak-pihak lain dan kedua, harus melakukan langkah-langkah untuk memperbaiki struktur dan hubungan internasional.

Mencermati hal ini, konferensi ini menjadi ujian besar dan opini dunia hari ini dan esok akan menilai apa yang kita lakukan.

Pimpinan sidang, ibu dan bapak,

Kondisi dunia dengan cepat tengah mengarah pada perubahan prinsip. Relasi kekuatan tampak sangat rapuh. Suara patahnya tulang punggung kezaliman dunia telah terdengar. Struktur politik dan ekonomi makro tengah menuju kehancurannya. Krisis politik dan keamanan semakin dalam dan krisis ekonomi yang semakin meluas dan tidak ada secercah harapan untuk untuk memperbaikinya. Berbagai dimensi baik kuantitas dan kualitas transformasi di berbagai bidang untuk maju sangat menakjubkan. Saya berkali-kali menekankan agar kembali dari jalur salah dalam mengelola dunia saat ini dan memperingatkan bila terlambat menyikapi masalah ini. Kini dalam konferensi internasional tak ternilai kepada kalian dan setiap pemimpin, pemikir dan kepada semua bangsa di dunia yang haus akan perdamaian, kebebasan, kemajuan dan kesejahteraan saya ingin mengatakan bahwa pengelolaan tidak adil yang menguasai dunia telah berakhir!

Kebuntuan ini tidak dapat dihindarkan karena muncul dari logika pengelolaan yang bersumber dari pemaksaan zalim. Karena logika gerakan dunia merupakan gerakan transenden, punya tujuan, manusia sebagai fokus dan kecenderungan kepada Allah. Gerakan yang akan melawan setiap kebijakan dan program yang tidak memihak kepentingan bangsa-bangsa dunia. Kemenangan kebenaran atas kebatilan dan masa depan cerah manusia berdasarkan sistem dunia yang adil merupakan janji Allah dan para nabi, bahkan harapan seluruh masyarakat dan generasi. Terciptanya masa depan seperti ini merupakan konsekwensi dari kebijaksanaan
dalam penciptaan dan menjadi kepercayaan semua hati orang yang percaya
kepada Allah dan posisi tak ternilai manusia.

Pembentukan masyarakat dunia praktis memungkinkan terciptanya sistem bersama dunia dan dengan ikutnya para ilmuwan, para pemimpin dan masyarakat dunia untuk ikut serta secara aktif dan adil dalam pengambilan keputusan makro dan prinsip merupakan jalur pasti dari tujuan besar ini. Kini kapasitas keilmuan, teknik, dan teknologi informasi dan komunikasi mampu membentuk pemahaman bersama dan luas dari masyarakat dunia dan sebagai sarana bagi terciptanya satu sistem bersama. Kini tanggung jawab besar ini berada di pundak para pendidik, ilmuwan dan negarawan seluruh dunia yang percaya akan jalan pasti ini mampu memainkan peran historisnya. Saatnya saya ingin menekankan satu hakikat bahwa Kapitalisme Barat sama dengan Komunisme telah berakhir karena tidak mampu melihat manusia sebagai apa adanya dan berusaha untuk memaksakan jalan dan tujuan yang diciptakan untuk manusia.

Ketimbang memperhatikan nilai-nilai manusia dan ilahi, keadilan,kebebasan cinta dan persaudaraan, malah menjadikan persaingan keras guna meraih kepentingan materi, individu dan kelompok sebagai prinsip hidupnya.

Kini dengan mengambil pelajaran dari masa lalu dan memahami keharusanmengubah jalan dan kondisi saat ini, mari kita semua bertekad untuk berusaha di segala bidang. Sekaitan dengan hal ini dan sebagaipembicaraan terakhir, saya mengajak semua untuk memperhatikan dua poin penting:

  1. Perubahan kondisi dunia dan itu pasti bisa dilakukan, namun perludiketahui bahwa hal ini hanya dapat dilakukan dengan kerjasama seluruh negara dan bangsa. Oleh karenananya, harus memanfaatkan seluruh kapasitas yang ada untuk kerjasama internasional. Kehadiransaya dalam konferensi ini sebagai penghormatan atas masalah penting begitu jugamasalah HAM dan pembelaan hak-hak bangsa dalam menghadapi fenomena buruk rasisme bersama kalian para ilmuwan.
  2. Mencermati tidak berfungsinya sistem-sistem yang ada dan relasipolitik, ekonomi, keamanan dan budaya internasional perlu melakukan perubahan dalam struktur yang ada dengan memperhatikan nilai-nilai ilahi dan manusiawi, analisa yang benar dan realistis mengenai manusia, berdasarkan keadilan dan memberikan nilai kepada hak semua manusia di seluruh dunia, para hegemoni harus mengakui kesalahan sebelumnya dan mengubah cara berpikir dan berlaku. Sekaitan dengan masalah ini, perubahan segera Dewan Keamanan PBB, menghapus
    keistimewaan diskriminatif hak veto, perubahan sistem moneter dan keuangan dunia harus segera dijadikan agenda untuk dibicarakan. Jelas, tidak memahami pentingnya perubahan segera sama dengan biaya lebih besar perubahaan itu sendiri.

Saudara-saudara saya yang terhormat,

Ketahuilah, gerakan menuju keadilan dan kemulian manusia bak gerak cepat dalam arus air. Jangan sampai kita melupakan eliksir cinta. Kepastian masa depan cerah bagi manusia merupakan modal besar yang mampu membuat kita semakin mengerti dan berharap untuk berusaha menciptakan dunia yang penuh dengan cinta, nikmat, tidak ada lagi kemiskinan, semua mendapat rahmat Allah dalam kepemimpinan manusia sempurna. Mari kita berusaha untuk memiliki saham dalam masalah penting ini!

Dengan harapan akan hari cerah dan indah!

Kepada pemimpin sidang, Sekjen PBB dan kepada kalian semua yang mendengarkan pidato ini, saya mengucapkan terima kasih banyak.

Semoga sukses dan tetap jaya.

(Penerjemah: Saleh lapadi. islammuhamadi.com)

Wednesday, April 22, 2009

Bencana dan Keadilan Tuhan

Beberapa bulan terakhir ini, musibah datang susul menyusul tanpa jeda. Sehabis banjir di Jakarta dan beberapa daerah lainnya, disusul rubuhnya tanggul Situ Gintung lalu dilanjutkan dengan banjir bandang di Sumatera Barat. Tidak hanya bencana alam, musibah tergelincirnya pesawat sampai pendaratan darurat juga menimpa. Ditambah lagi petir yang datang silih berganti menyambar puluhan orang disertai tumbangnya pepohonan mengancam banyak orang serta berakibat pada macetnya berbagai aktifitas kehidupan.

Bencana merupakan sesuatu yang datang dari luar diri manusia. Ia adalah aspek luar yang berakibat pada manusia di luar kehendak manusia itu sendiri. Tak seorang pun yang tewas dalam bencana air bah mengira akan terjadi bencana itu sehingga mereka tak punya daya saat air bah menyapu masuk ke kamar dan ke tempat tidur mereka. Kilatan petir adalah proses elektrik sebagai hasil interaksi antara unsur-unsur muatan atomik di udara yang meluncur ke bumi secara tiba-tiba dan tidak bisa diprediksi. Bencana seperti ini datang sekejap mata dan manusia tak punya waktu untuk berusaha menghindar. Muncullah pertanyaan bagi kita. Mengapa Allah yang Maha Penyayang menurunkan bencana dan musibah? Bukankah Ia Ar-Rahman yang sangat menyayangi hambaNya? Tapi mengapa Ia tega melihat hambaNya mengerang kesakitan dan meregang nyawa? Mengapa yang Maha Adil hanya menurunkan bencana pada sebagian saja dari golongan hambanya sementara sebagian yang lain tak tersentuh?Pertanyaan seperti ini berkecamuk di kepala kita dan butuh jawaban.

Dalam Surah Ar-Syura ayat 34, Allah menjelaskan musabab datangnya musibah, “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.” Namun tak semua perbuatan negatif tangan manusia berakibat pada musibah itu. Lanjutan ayat ini menjelaskan bahwa “ dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” sehingga Allah menghindarkan kita dari musibah. Ayat ini memperlihatkan kepada kita betapa kerusakan yang diciptakan oleh tangan manusia melalui berbagai cara seperti pemusnahan, kelalaian, ketakpedulian pada keseimbangan alam telah menjerumuskan manusia pada kerusakannya sendiri. Ayat ini juga memperlihatkan keadilan Allah yang tak sewenang-wenang menjatuhkan musibah pada sembarang orang. Bahkan dibalik “kekejaman” bencana, ternyata begitu banyak kerusakan yang kita ciptakan dimaafkan oleh Allah. Sebagai contoh, sadar atau tidak, knalpot kendaraan bermotor kita telah merusak udara namun Allah memaafkan itu sehingga tak semua kita diberi penyakit akibat polusi itu.

Namun demikian, mengapa Tuhan seringkali tak menjatuhkan bencana pada mereka yang membuat kerusakan besar seperti para pengembang yang tak memperhatikan keseimbangan alam atau pengusaha yang merusak ekosistem hutan? Tuhan bahkan memberikan kesenangan kepada mereka sehingga tak merasakan efek dari kerusakan itu. Untuk menjelaskan ini, Allah memberikan keterangannya bahwa Ia memang menunda hukuman pada mereka selama di dunia. “Dan kepada orang yang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali" (Q.S. 2: 126).

Allah dengan keadilanNya menganugerahkan fitrah asal yang sama kepada manusia yakni kecenderungan pada kebaikan. Keburukan bukanlah sifat asli manusia. Oleh karena itu, Tuhan menurunkan bencana sebagai sarana loncatan pengalaman berhubungan dengan Tuhan bagi mereka yang beriman, sementara bagi mereka yang tidak beriman, bencana adalah sarana untuk memutar haluan pada jalan kebaikan. “Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang saleh dan di antaranya ada yang tidak demikian. Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran).” (Q.S. 7: 16)

Monday, April 13, 2009

Blog Paling Inspiratif pada Maret 2009

Alhamdulillah, Blog saya ternyata mendapatkan Award sebagai Blog paling inspiratif untuk periode Maret 2009. Berikut Klipingnya :he.. he.. jangan langsung percaya, info lebih lanjut, klik di sini